Search

another me

sempurna itu fana

Zahra Lupa Qadha

1495814112455.jpg

MARHABAN YAA RAMADHAN 🌻

wah senangnya besok udah mulai puasa

eits tapi tunggu dulu!
terutama untuk kamu para ukhti, coba dicek lagi utang puasanya. udah kecentang semua kah? atau jangan-jangan masih ada utang puasa yang belum terbayar? waduh 😱

kalau masih ada utang puasa yang belum diganti/diqadha, yuklah segera bertaubat pada Allah karena kelalaian kita dan janji untuk tidak mengulanginya kembali. memang banyak hal yang bikin kita lalai untuk melaksanakan kewajiban kita –mengqadha puasa, salah satunya yang paling sering adalah LUPA! hmm apa mau dikata ya, namanya juga manusia makanul khoto’ wannisyan, tempatnya salah dan lupa. eh tapi jangan sampai asal mula lupa ini dari malas kemudian menunda dan akhirnya lupa lho ya.

kalau sudah begini, harus taubat nasuha dan berdoa, semoga Allah masih memberi waktu pasca Ramadan untuk mengqadha utang puasa kita tahun lalu, which is hukumnya wajib lhooo. sesungguhnya meninggalkan kewajiban adalah perbuatan maksiat.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu…” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan 💦

https://muslimah.or.id/2138-belum-mengqadha-hutang-puasa-hingga-datang-ramadhan-berikutnya.html

Diksi Jawa

orang Jawa itu, alih alih bilang “keset banget! mung cerak kok solate dijamak qashar” (males banget! jarak cuma deket kok solatnya dijamak qashar)

lebih memilih bilang, “sregep banget. wayahe dhuhur kok wes solat asar” (rajin banget. masih waktunya solat dhuhur tapi udah solat asar)

18580271_312933332471293_1642107516433203200_n.jpg

Saya Bahagia (2)

WhatsApp Image 2017-05-21 at 10.40.45 AM.jpeg

Tuhan, tolong jaga senyum manusia-manusia super ini, supaya dapat merekah kembali, lain kali

@Acara Puncak Milad MQFM Jogja 11 Tahun
Ruang Cinema Amikom, 4 Mei 2017

p.s dibuang sayang, buah karya Nizam Fadli –> Milad MQ FM Jogja 11 Tahun

JUGANGAN, SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TRADISIONAL

“Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapalkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”
-Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945-

Kutipan di atas adalah bunyi salah satu ayat dari hukum dasar Republik Indonesia, UUD 1945 yang dalam pengaplikasiannya di kehidupan sehari-hari masih jauh antara apa yang tertera di UUD 1945 dan apa yang menjadi kenyataan. Faktanya, lingkungan hidup yang baik dan sehat belum juga sepenuhnya didapat oleh masyarakat Indonesia, baik di daratan, perairan, bahkan udara. Katakanlah air sungai kita yang tidak elok jika dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena airnya yang keruh, polusi udara dari asap kendaraan bermotor yang kian hari kian menjadi, dan kotornya lingkungan kita dengan sampah yang berhamburan di mana-mana. Permasalahan lingkungan hidup yang terakhir, yakni mengenai sampah serta pengelolaannya telah menjadi permasalah pokok bagi banyak negara di dunia yang akan menjadi sorotan utama dalam tulisan ini.

Definisi sampah menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan pengelolaan sampah dalam UU-18/2008 didefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Karena sampah dianggap sebagai barang sisa yang tak lagi berguna, maka sampah selalu ditujukan untuk dibunuh dan dihilangkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemprosesan akhir sampah[1]. Prinsip tersebut dapat menyelesaikan satu masalah dengan menimbulkan masalah lain yang tak kalah besar.

Sampai saat ini paradigma pengelolaan sampah yang digunakan adalah: KUMPUL-ANGKUT-BUANG, dan andalan utama sebuah kota dalam menyelesaikan masalah sampahnya adalahpemusnahan dengan landfilling pada sebuah TPA. Penyingkiran dan pemusnahan sampah atau limbah padat lainnya ke dalam tanah merupakan cara yangselalu digunakan, karena alternatif pengolahan lain belum dapat menuntaskan permasalahan yang ada.Cara ini mempunyai banyak resiko, terutama akibat kemungkinan pencemaran air tanah, berpotensi mendatangkan masalah pada lingkungan, terutama darilindi (leachate) yang dapat mencemari air tanah serta timbulnya bau dan lalat yang mengganggu, karenabiasanya sarana ini tidak disiapkan dan tidak dioperasikan dengan baik[2].

Ketika mayoritas kota di Indonesia tak habisnya membicarakan mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah: bagaimana mengubah operasi utama di tempat pembuangan akhir supaya lebih ramah lingkungan; bagaimana regulasi yang tepat dalam pengangkutan sampah dari rumah tangga ke tempat pembuangan akhir; apakah perlu adanya perubahan paradigma pengelolaan sampah di Indonesia; dan berbagai solusi demi mengenyahkan sampah dari lingkungan (baik dengan membunuh maupun mengolah kembali), justru masyarakat di desa tidak pernah menganggap sampah sebagai sebuah problematika yang harus dipikirkan sedemikian rupa. Sebagian masyarakat desa di Indonesia memilki kearifan lokalnya sendiri dalam pengelolaan sampah, yaitu dengan sistem yang disebut jugangan. Jugangan adalah cara masyarakat di pedesaan, terutama yang memiliki pekarangan luas untuk menimbun sampah. Mengolah sampah menjadi kompos secara alami dan tradisional. Namun, seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia dan dengantingkat pertumbuhan yang tinggi, volume sampah di Indonesia juga semakin bertambah. Di samping itu, pola konsumsi masyarakat memberikan kontribusi dalam menimbulkan jenis sampah yang semakin beragam, antara lain, sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam[3].

Tulisan ini selanjutnya akan mencoba meninjau kembali sistem jugangan sebagai kearifan lokal dalam segi pengelolaan dan pengomposan sampah, apakah masih relevan dan efektif jika diterapkan di kehidupan sekarang. Melihat perubahan jenis sampah yang semakin kompleks dan menuntut pengelolaan yang berbeda dari masing-masing jenis sampah. Selain itu, menarik juga bagi penulis untuk mengetahui dan memahami alasan yang mebdasari masyarakat pedesaan masih bergantung pada sistem jugangan dan tidak beralih pada sistem pembuangan akhir (menuju TPA). Desa Bongos, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY menjadi daerah tempat peneliti melihat sertamengumpulkan data. Desa Bongos diharapkan mampu menjadi representasi daerah lain yang juga menerapkan sistem jugangan.

Pengelolaan Sampah dengan Jugangan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, jugangan merupakan salah satu kearifan lokal pada masyarakat di pedesaan dalam mengelola sampah. Kearifan lokal adalah kumpulan pengetahuan dan cara berpikir yang berakar dalam kebudayaan suatu kelompok manusia, yang merupakan hasil pengamatan selama kurun waktu yang lama (Babcock, 1999)[4]. Kearifan lokal yang berlaku di masyarakat selalu memiliki faedah dan nilai yang tersimpan bagi masyarakat yang menerapkannya. Begitu pun dengan jugangan. Jugangan adalah cara masyarakat di pedesaan, terutama yang memiliki pekarangan luas untuk mengelola sampah, berupa lubang di tanah yang sengaja dibuat dengan luas hanya sekitar 1×1 meter dengan kedamalam 1 meter. Jugangan umumnya difungsikan sebagai tempat sampah atau tempat pembuangan akhir. Tidak pernah ada tempat sampah di halaman rumah masyarakat desa. Tempat sampah biasanya hanya ada di dalam rumah. Satu di dapur untuk sampah dapur dan sisa-sisa makanan, dan satu jika diperlukan di ruang tengah sebagai tempat pembuangan sampah sementara karena selanjutnya akan dibuang ke jugangan juga. Oleh karena adanya jugangan, masyarakat desa tidak pernah membutuhkan petugas sampah untuk mengangkut sampah mereka ke tempat pembuangan akhir, karena rumah tangga mereka sudah memiliki tempat pembuangan akhir masing-masing berupa jugangan. Mereka tidak membutuhkan orang lain untuk memusnahkan sampah atau limbah rumah tangga mereka.

Selain berfungsi sebagai tempat sampah atau tempat pembuangan akhir, jugangan juga secara tidak langsung memiliki manfaat sebagai sarana pengomposan tradisional dan alami. Sampah-sampah skala rumah tangga yang mayoritas merupakan sampah organik, misalnya daun-daun yang berguguran di pekarangan atau sampah dapur akan dibuang ke jugangan, ditimbun, terurai oleh tanah, dan selanjutnya akan menjadi kompos yang menyuburkan tanaman-tanaman di sekitar jugangan. Oleh sebab itu, jugangan cenderung dibuat di tanah yang dekat dengan tanaman atau pepohonan. Proses pengomposan oleh jugangan adalah sebagai berikut: jugangan dibuat dengan mengeruk tanah; jugangan difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir, diisi dengan sampah; setelah beberapa waktu, sampah memenuhi jugangan; sampah ditimbun dan  jugangan diratakan dengan mengambil tanah dari pekarangan yang sumbernya tak jauh dari jugangan; akan muncul jugangan baru hasil pengerukan untuk menimbun jugangan lama; sampah pada jugangan lama yang sudah diratakan akan menjadi kompos; jugangan baru kembali diisi dengan sampah; dan setersunya (Lihat Diagram 1). Pemanfaatan jugangan merupakan siklus yang berkelanjutan.

Diagram 1. Siklus jugangan

Dilema Jugangan

Sebelum sampah yang diproduksi oleh masyarakat menjadi kompleks, jenis sampah yang dihasilkan hanya berputar pada sampah organik saja. Dedaunan yang gugur dari dahannya, sampah dapur berupa sisa makanan, dan kertas-kertas meskipun jumlahnya tidak banyak. Sampah dari bahan alami dan kertas tidak membutuhkan waktu lama dalam proses penguraiannya. Namun yang terjadi sekarang, perkembangan teknologi memicu bertambah kompleks dan beragamnya jenis sampah dan limbah yang dihasilkan rumah tangga. Salah satunya munculnya sampah plastik dan sterofoam yang notabenenya sangat sulit diuraikan oleh tanah dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahan-bahan seperti ini akan menjadi permasalahan baru jika ‘pembunuhannya’ dengan ditimbun, seperti yang biasa dilakukan masyarakat dengan sistem jugangan.

Sampah organik, atau sampah yang berasal dari bahan alami seperti sayur, kulit buah, dan lain-lain akan hancur dalam hitungan hari atau minggu. Atau paling tidak kurang dari satu bulan. Sementara sampah kertas akan terurai dalam waktu dua sampai enam bulan. Kantong plastik biasa membutuhkan waktu 10 sampai 12 tahun untuk terurai. Botol plastik lebih lama lagi. Karena polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur. Sedangkan sterofoam membutuhkan waktu 500 tahun untuk bisa hancur sempurna[5].

Munculnya berbagai jenis sampah baru mengakibatkan adanya pembedaan dalam pengelolaan masing-masing jenis sampah dalam sistem jugangan. Menurut salah satu narasumber penulis, sampah yang dikubur di jugangan biasanya adalah sampah organik saja, seperti sampah dapur dan daun. Sedangkan sampah kertas atau plastik akan dikumpulkan dan ditawarkan pada pemulung yang ada di sekitar sana, bukan oleh petugas sampah. Masyarakat desa memang cenderung berteman dekat bahkan membutuhkan pemulung. Hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat yang hidup di perkotaan, terutama perumahan yang mayoritas memiliki aturan untuk pemulung: pemulung dilarang masuk!

Selain adanya inisiatif dari masyarakat untuk memilah dan memilih sampah, sistem jugangan juga mengalami perubahan. Yang sebelumnya jugangan hanya menimbun sampah dan mengomposkan tanah, sekarang ini jugangan juga banyak yang ditindaklanjuti dengan pembakaran sampah yang tidak bisa atau membutuhkan waktu penguraian yang lama oleh tanah. Sehingga searang ini kita mengenal ada dua jenis jugangan: (1)jugangan timbun untuk sampah-sampah basah dan dedaunan (organik); dan (2) jugangan bakar untuk sampah-sampah yang lama terurai tanah alias tidak bisa menjadi kompos.

Pembakaran sampah tentu saja bagi pengamat lingkungan bukan menjadi hal yang disarankan, bahkan pembakaran sampah di beberapa tempat sudah dilarang karena efeknya yang kurang baik bagi kesehatan dan bagi lingkungan itu sendiri. Pembakaran sampah dianggap menjadi salah satu penyebab utama pencemaran udara. Ketika membakar sampah asal-asalan, suplai oksigen untuk menghasilkan karbondioksida hanya ada pada permukaan tumpukan sampah saja. Sementara itu bagian dalam yang kekurangan oksigen akan menghasilkan karbonmonoksida yang asapnya sangat berbahaya karena menganggu fungsi kerja hemoglobin yang seharusnya mengangkut dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh dan menghasilkan senyawa yang ditengarai dapat menyebabkan kanker. Selain itu, pembakaran plastik juga akan menghasilkan senyawa kimia dioksin yang dapat mengancam tumbuhan dan berbagai senyawa berbahaya lainnya.

Bagi masyarakat pedesaan, pembakaran sampah bukan menjadi hal yang dikhawatirkan. Hal ini disampaikan pula oleh salah satu narasumber, bahwa pembakaran jugangan tidak terlalu menjadi masalah, karena letak jugangan dan pekarangan yang sangat jauh dari pemukiman warga, sehingga tidak ada pihak yang merasa terganggu.

 

Penutup

Sebagai sebuah kearifan lokal, jugangan memiliki nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai nilai yang benar. Bukan tanpa alasan, tetapi karena selama ini kearifan lokal dianggap sebagai pegangan hidup yang “menyelamatkan” mereka, membantu mereka untuk menjalani kehidupan. Begitu pun dengan jugangan. Masyarakat merasa bahwa sistem jugangan sangat memudahkan mereka dalam mengelola sampah dan bahkan menjadi alat pengomposan alami. Jugangan tidak memberi dampak buruk sama sekali bagi kehidupan mereka. Hal ini bertolak belakang dengan anggapan para pemerhati lingkungan yang merasa pembakaran sampah di jugangan memiliki dampak buruk, baik nagi kesehatan manusia, tanaman, tanah, dan memicu pencemaran lingkungan. Dengan demikian, jugangan merupakan sebuah kearifan lokal yang tetap butuh perhatian dari pemerhati lingkungan. Barangkali penting juga adanya sosialisasi maupun edukasi bagi masyarakat setempat untuk mewujudkan jugangan sebagai sistem pengelolaan sampah yang efektif dan aman.

[1]Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 18, Tahun 2008.

[2]Enri D. dan Tri P., 2010, “Diktat Kuliah TL-3104 Pengelolaan Sampah”, ITB: Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan.

[3]Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 18, Tahun 2008.

[4]AH. Darmawan, 2010, “Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di Kampung Kuta”, Sodality Jurnal Sosiologi Pedesaan,  ejournal.skpm.ipb.ac.id.

[5]http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150314083106-255-39061/jenis-sampah-dan-lama-proses-penghancurannya/ (diakses pada 19 Oktober 2016)

Coretan Mahasiswa Midnight

Untitled.png

INI APAAAA?

kaget saya. ketika posisi di depan laptop lagi nggarap tugas negara, lalu tanpa sadar melek, kedip-kedip. lah kapan meremnya? batin saya. oh, ketiduran rupanya. tangan masih di atas keyboard tuh. yah namanya juga orang ngantuk kan? mohon maaf lahir batin. tolong dimaklumi saja.

belum selesai. saya dibuat kaget lagi ketika yakin bahwa diri ini sudah sadar dan berniat untuk melanjutkan tugas negara, lalu melihat di layar laptop ada tulisan macam gitu (lihat gambar). kedip. kedip. kedip. ini apa maksudnya ya??

“Awalnya mendapat gelar sarjana di UGM tahun 2011, insya Allah”

yakali pak edward-pritchard dapet gelar sarjana di UGM. tahun 2011 pula. dan ‘masih’ insya Allah?? Gusti, mikir apa saya tadi? kenapa bisa muncul barisan kata macam itu? saya nggak habis pikir ini.

haduh ngakak sendiri tengah malem ini. dan bukannya melanjutkan untuk nggarap, malah tertarik mengabadikan momen ini. haha. sebenarnya ini bukan yang pertama sih, ketiduran di tengah nggarap tugas dan dibuat kaget karena kemunculan coretan tak sadar di layar. tapi biasanya coretan itu cuma susunan huruf-huruf tanpa makna. atau susunan beberapa kata acak yang nggak bisa dipahami. tapi ini…….. sangat jelas –meskipun nggak jelas juga sih maksudnya apa.

dan sayangnya saya nggak ingat sama sekali, kenapa ada UGM, 2011, dan insya Allah yang saya tuliskan dengan cantik nan ciamik.

 

ps. sebenarnya kalimat yang mau saya tuliskan adalah “Awalnya mendapat gelar sarjana di Oxford dalam bidang sejarah”. auk ah jauh!

Kampung di Bantaran Kali Semarang

18382264_864595940354387_7608865693957619712_n.jpg

kayaknya memang baru sekali ini saya mampir untuk singgah di kota Semarang –biasanya cuma lewat doang. ah rupanya kota ini memang menyisakan memori tersendiri di otak saya, tersimpan rapi. saya tulis supaya tak lupa dan basi.
.
.
.
selain panas luar biasa, gedung tinggi kanan kiri, tempat wisata yang minta dikunjungi, macetnya yang sulit ditoleransi; semarang juga punya cerita tentang perkampungannya yang padat di pinggir kali –yang katanya suka bajir itu. mengingatkan saya pada kampung di bantaran Kali Code. tapi yang ini beda, lebih padat, lebih ramai, lebih riuh, lebih runyam, lebih mencekam pula treknya karena di bukit. sempit sekali, khas perkampungan di tengah kota metropolitan. boro boro punya pekarangan, lebar jalannya aja ga manusiawi. gabisa parkir. yakali, bodi satu mobil ini udah cukup memonopoli jalan. sempat mobil yang saya naiki berpapasan dengan mobil lain dari arah berlawanan. bingung. kiri jurang bawahnya ada atap orang, kanan rumah tanpa halaman tanpa gang, belakang udah ramai barisan motor yang menunggu dengan sabar. sempet bikin deg deg an juga ini gimana keluarnya coba. tapi akhirnya, perlahan tapi pasti gerakan kecil kedua mobil membuat jalanan kembali lancar. tentu saja dengan bantuan dan arahan warga sekitar. karena simpati sepertinya, “wah plat AB mesakke tenan iki terjebak” wkwk
.
.
.
ada lagi yang tidak bisa saya lupakan. satu dari deretan rumah-rumah di foto itu, adalah rumah yang menyimpan aktifitas penting! esensial krusial fundamental radikal. rumah kecil di gang sempit, tapi percayalah, dari pagi buta sampai larut malam tak pernah surut pengunjung yang masuk, bahkan kadang saking membludaknya sampai menonton dari luar. sebut saja rumah itu “rumah tamiya”. yaampun tamiya lho bos. sa kira eksistensi mainan mobil mobilan anak borjui itu sekarang sudah luntur, bersama dengan yoyo, tamagochi, dan logico piccolo. ternyata tidak. pecinta tamiya ada dan berlipat ganda. ada yang datang dengan membawa tamiya jagoannya, sengaja menantang kontestan lain. ada pula yang mengambil peran sebagai penonton saja, tidak terima kehilangan momen kehebohan orang orang dengan tamiyanya. jangan salah, yang hadir di rumah tamiya ini dari berbagai kalangan; wanita, pria, anak anak, orang dewasa, bahkan orang tua. ah, tamiya ternyata masih saja ya menjadi alat untuk menyatukan umat.

Up ↑