Search

another me

sempurna itu fana

Contoh Kasus Sengketa dan Non-sengketa dalam Antropologi Hukum

Dalam pendekatan antropologi hukum, dalam rangka hendak digalinya pranata-pranata yang dihayati sebagai hukum oleh individu, kelompok atau masyarakat, maka dengan jalan mengungkapkan kasus-kasus sengketa, maupun kasus-kasus non-sengketa (Ihromi, 2001)[2]. Tulisan ini akan memaparkan contoh kasus sengketa dan non-sengketa untuk mengetahui hukum yang hidup di masyarakat Desa Lelobatan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS, NTT[1]

  1. Sengketa Keluarga: Perebutan Lokasi Pemakaman Anak

Sengketa merupakan fenomena sosial yang menimbulkan ketidakadilan dan kerugian bagi pihak yang disebut korban, baik individu maupun sekelompok masyarakat. Sengketa diawali oleh (1) tahap prakonflik, yaitu ketika pihak korban merasakan adanya ketidakadilan; (2) berlanjut pada tahap konflik, yaitu ketika korban mengeluhkan kerugian yang ia rasakan pada pihak lain; (3) dan akhirnya terjadi sengketa, yaitu jika konflik telah diumumkan ke publik.

Contoh sengketa yang  penulis angkat ialah kasus sengketa keluarga yang terjadi di Desa Lelobatan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT mengenai perebutan lokasi pemakaman anak. Tahap prakonflik dimulai pada tanggal 20 Juni 2017 ketika sebuah peristiwa yang tidak diinginkan siapapun terjadi, yakni kematian seorang anak perempuan kelas 1 SD bernama Adolfioa Toto. Adolfioa dikenal sebagai anak yang periang dan baik hati oleh orang-orang sekitar, termasuk keluarga, guru, dan teman-temannya.

Sayangnya, pascakematian Adolfioa terjadi sebuah perselisihan di dalam keluarga mengenai  lokasi tempat Adolfioa akan dimakamkan. Perselisihan terjadi antara dua fam, yakni keluarga ayah dan keluarga ibu yang sama-sama menginginkan putrinya itu disemayamkan di pemakaman keluarga masing-masing. Di sinilah tahap prakonflik terjadi. Sejak awal, sang ayah telah memutuskan bahwa Adolfioa akan disemayamkan di makam keluarga Toto, mengingat garis patrilineal yang masih sangat kental di masyarakat Timor. Namun, si ibu merasa mereka punya hak agar putri mereka Adolfioa bisa disemayamkan di makam keluarga mereka, Baun. Hal ini didukung juga dengan lebih dekatnya makam keluarga Baun dari rumah duka jika dibandingkan dengan makam keluarga Toto.

IMG_1110.JPG

Perselisihan ini kemudian membesar menjadi konflik yang dianggap serius oleh keluarga ketika bukan hanya keluarga inti saja yang mempermasalahkan hal ini, tapi juga seluruh fam, baik dari pihak ayah maupun ibu. Karena baik ayah maupun ibu sama-sama mengeluhkan keresahan mereka mengenai pemakaman Adolfioa kepada keluarga besar mereka. Bahkan kasus ini menjadi sengketa ketika kedua belah pihak merasa memiliki hak untuk ‘mendapatkan jasad’ di pemakaman keluarga mereka masing-masing dan menceritakannya pada publik. Kasus ini pun menjadi bahan pembicaraan masyarakat desa tak lama setelah itu.

Akhirnya, pihak keluarga, baik dari ayah maupun ibu Adolfioa memutuskan untuk menghadirkan pihak ketiga yang diharapkan mampu membantu menyelesaikan permasalahan keluarga mereka. Penyelesaian sengketa ini disebut oleh Cecilio (1988) sebagai family mediation, yaitu mediasi yang dilakukan untuk menangai sengketa keluarga[3]. Bukan seorang saja pihak ketiga yang dimaksud, tapi beberapa orang tokoh adat. Mereka adalah sosok yang dirasa bijak dan paham akan duduk permasalahan keluarga Toto-Baun ini. Dua di antara tokoh adat yang dimaksud adalah Petrus Almet dan Yohannes Almet. Kedua tokoh ini sengaja dipilih oleh kedua belah pihak yang bersengketa sebagai mediator, selain karena dituakan juga karena jarak tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari tempat perkara (kediaman Adolfioa Toto), sehingga kedekatan emosi juga sudah terjalin di antara tokoh adat tersebut dengan keluarga.

Tidak butuh waktu lama untuk memutuskan solusi dari sengketa perebutan lokasi pemakaman Adolfioa, karena ketiga belah pihak (dua pihak yang berperkara dan satu pihak mediator) sama-sama sepakat bahwa kasus ini perlu penyelesaian secepatnya, agar jenazah dapat segera disemayamkan dan tenang di alam sana. Hasil musyawarah keluarga dibantu oleh tokoh adat sebagai mediator yaitu dengan memakamkan Adolfioa di halaman belakang rumah mereka, bukan di pemakaman keluarga Toto (fam ayah) atau Baun (fam ibu) sebagai jalan tengah.

 

Sebenarnya bukan hal yang asing untuk masyarakat Desa Lelobatan menguburkan kerabat mereka di halaman rumah, hanya saja opsi tersebut tidak tercetus sejak awal karena beredarnya mitos di masyarakat bahwa apabila seseorang dimakamkan di halaman belakang rumah dan hanya sendiri, maka yang terjadi adalah arwah orang tersebut akan gentayangan dan mencari teman untuk dimakamkan di sebelahnya. Namun, mitos tersebut kalah dengan kesepakatan bersama tiga belah pihak untuk mencari solusi dari sengketa keluarga yang terjadi.

Pada masyarakat Timor, menjadi hal yang biasa bilamana tokoh adat menjadi penengah dari setiap permasalahan yang ada di masyarakat. Alih-alih mengundang kepala desa atau pendeta, warga lebih dulu meminta bantuan pada tokoh adat setempat. Hal ini menggambarkan bahwa hukum adat di daerah tersebut merupakan dasar hukum yang paling dijunjung, di atas hukum agama dan hukum negara. Sehingga bukan menjadi perkara baru juga jika masyarakat menemui sebuah permasalahan bahkan hingga menimbulkan konflik, maka penyelesaian pertama adalah dengan duduk musyawarah bersama tokoh-tokoh adat setempat, bukan lantas dibawa ke kepala desa dan menjadi perkara negara dengan ancaman pasal-pasal yang dilanggar.

  1. Hukum Bertamu: Sirih Pinang Sebagai Tanda Hormat

Dalam subbab ini, penulis akan memaparkan deskripsi mengenai tradisi sirih pinang sebagai syarat bertamu pada masyarakat Desa Lelobatan sebagai contoh dari kasus non-sengketa untuk melihat hukum. Non-sengketa merupakan deskripsi umum situasi yang tidak menimbulkan sengketa, korban, atau ketidakadilan.

Sirih pinang merupakan salah satu kebiasaan dari orang-orang di daratan Timor, termasuk Desa Lelobatan. Tidak pandang bulu tidak pandang usia, siapa saja dan dari kalangan mana saja di tanah Timor tak lepas dari kebiasaan makan sirih pinang ini. Bukan sekadar menjadi kebiasaan, tapi sirih pinang juga menjadi tradisi masyarakat Desa Lelobatan yang masih dipegang dan sangat kental hingga sekarang. Menurut Petrus Almet, sirih pinang merupakan pembuka adat bagi masyarakat Timor[4]. Maksudnya dalam setiap prosesi adat yang dilakukan pasti membutuhkan sirih pinang, termasuk dalam adat bertamu.

Adalah sirih pinang, barang –makanan yang pertama kali disuguhkan dan ditawarkan pada setiap kase[5] jika berkunjung atau bertemu duduk bicara; bukan secangkir teh hangat, bukan kopi hitam, bukan rokok linting, apalagi kue kering. Menurut Wilujeng (2013), nginang bagi masyarakat Indonesia memiliki fungsi yang menyangkut tata pergaulan dan tata nilai di masyarakat[6]. Sirih pinang menjadi sarana penghantar bicara untuk mempererat persaudaraan dan juga untuk menghargai dan menghormati tamu yang berkunjung. Penghormatan tersebut akan berbalas jika tamu menerima suguhan sirih pinang dari tuan rumah. Jika tamu menolak sirih pinang yang diberikan, maka ia dianggap tidak sopan dan tidak menghargai tuan rumah. Begitu pun jika tuan rumah tidak menawarkan sirih pinang pada tamu yang berkunjung juga dianggap tidak sopan.

Sirih pinang dalam bertamu tersebut menandakan masih kentalnya adat istiadat yang hidup pada masyarakat Desa Lelobatan. Karena di Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, tradisi bertamu dengan sirih pinang ini sudah mulai hilang. Bercak merah yang merupakan ludah hasil memakan sirih pinang mulai meresahkan warga, karena mengotori berbagai tempat, bahkan ruang publik seperti jalan raya dan halaman kantor dinas. Selain itu, bagi orang yang tidak tahu ludah sirih pinang yang berwarna merah ini akan disalahsangkakan menjadi bercak darah. Oleh karena itu, di Soe sudah ada larangan untuk “meludah merah”.

 

Referensi

Irianto, Sulistyowati. -. “Kesejahteraan Sosial dalam Sudut Pandang Pluralisme Hukum” dalam Ihromi, T.O. (Ed.)  Antropologi Hukum: Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kriekhoff, Valerine J.L. -. “Mediasi” dalam Ihromi, T.O. (Ed.)  Antropologi Hukum: Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Wilujeng, Nuning. 2013. “Sirih Pinang di Indonesia dan Taiwan” dalam Majalah Ilmiah Populer Wacana Universitas Negeri Yogyakarta, Tahun XV No. 1 2013, 84-92.

[1] Lokasi yang dipilih merupakan lokasi penempatan kegiatan Kuliah Kerja Nyata penulis

[2] T.O. Ihromi (Ed.),  Antropologi Hukum: Sebuah Bunga Rampai, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001, hlm 236.

[3] T.O. Ihromi (Ed.), Op.cit., hlm 228

[4] Hasil wawancara dengan Petrus Almet selaku tokoh adat

[5] Kase : orang luar, termasuk tamu.

[6] Nuning Wilujeng, “Sirih Pinang di Indonesia dan Taiwan” dalam Majalah Ilmiah Populer Wacana Universitas Negeri Yogyakarta, Tahun XV No. 1 2013, hlm 86.

Advertisements

Iso nggendang ra iso nyuling.
Iso nyawang ra iso nyanding

Salam Hidung Orang Timor

Greetings from Timor



Orang Indonesia pada umumnya, terbiasa menyambut orang lain ketika bertemu dengan mengucapkan salam dibarengi jabat tangan. Di kesempatan apapun lho! Kalau bertemu di acara resmi misalnya, lazimnya orang Indonesia akan menyapa dengan menjabat tangan orang yang ia temui sambil mengucap salam. Salamnya juga bisa bermacam-macam. Dengan salam secara agama “assalamu’alaikum” atau “om swastiastu” misalnya, atau dengan salam nasional “selamat pagi” yang dilanjutkan dengan menanyakan kabar. Jika berhalangan untuk bersalaman, orang Indonesia cenderung akan mengganti kontak fisik itu dengan menelungkupkan tangan atau membungkukkan badan sedikit sebagai bentuk hormat dan sapaan kepada orang lain.

Memang sejak kecil sebagian besar dari kita sudah diajarkan untuk bersalaman dengan orang ketika kita bertemu dan ketika kita akan pamit pergi. Ada tambahan ‘cium tangan’  juga kalau bersalaman dengan orang yang lebih tua kan. Coba ingat-ingat, setiap kita diajak bertamu ke rumah teman bapak-ibu kita, pasti kita didorong untuk bersalaman dengan beliau, baik ketika bertemu maupun ketika akan berpisah.  Pun ketika di sekolah, di lingkungan keluarga, di acara resmi, atau bahkan yang kebetulan kita temui. Itulah cara orang Indonesia menyapa dan memberi hormat pada orang lain. Budaya jabat tangan atau bersalaman ketika bertemu dan berpisah ini tak akan lepas, kita bawa sejak kecil hingga dewasa dan menua di Indonesia.

Itu sih kalau di Indonesia. Ya, lain pagar lain ilalang, lain tempat lain pula budayanya. Berbeda dengan orang Indonesia dengan budaya jabat tangannya, orang Jepang justru terbiasa membungkukkan badan ketika bertemu dengan orang lain. Ada juga masyarakat Thailand yang menelungkupkan tangan kepada orang yang mereka temui. Terbilang aneh lagi orang Zimbabwe yang bertepuk tangan jika akan bertemu atau berpisah. Tuh, beda banget ya? Bahkan di Indonesia saja ada lho, yang cara menyapanya bukan dengan berjabat tangan, menelungkupkan tangan, atau membungkuk. Yap! Mereka adalah orang Timor.

Tidak seperti orang Indonesia pada umumnya yang cenderung mengucapkan salam sambil berjabat tangan jika bertemu atau berpisah dengan orang lain, masyarakat Timor justru memiliki tradisi salam hidung! Yaitu saling menyentuhkan dan menggesekkan hidung, antara kita dengan orang lain yang kita temui. Kepada siapapun; baik laki-laki kepada perempuan maupun sebaliknya, anak-anak pada orang tua maupun sebaliknya, warga lokal kepada tamu maupun sebaliknya.

Salam hidung bagi orang Timor merupakan wujud kehangatan dan keakraban serta ekspresi kasih sayang antara satu orang dengan orang lainnya. Dengan salam hidung, itu berarti kita menghormati dia sebagai saudara sesama. Jadi bagi orang Timor, menggesekkan hidung mereka satu sama lain sama sekali bukan tabu. Bahkan, terkadang saking semangatnya mereka bertemu dengan kawan, hidung mereka bukan hanya saling bersentuhan, tapi juga saling berbenturan agak keras. Duh. Sampai tak sengaja bersentuhan bibir juga pernah. Barangkali sebagian akan menganggap salam hidung -apalagi antara pria dan wanita tampak tabu dan tak sesuai norma yang diusung budaya Timur, tapi itulah cara orang Timor menunjukkan kasih antar sesama mereka, sehingga tidak ada keraguan atau keengganan sedikitpun bagi mereka untuk melakukan tradisi salam hidung jika bersua.

Terus kok bisa orang Timor punya tradisi salam hidung ketika sebagian besar masyarakat Indonesia akan berjabat tangan jika bertemu? Awalnya saya pikir salam hidung di Timor adalah pengaruh budaya dari bangsa Portugis yang pernah lama menduduki Timor. Tapi rupanya tidak ada literatur yang menyebutkan nose kiss sebagai budaya greeting bangsa Portugis. Bukan juga Belanda atau Jepang atau Inggris. Budaya salam hidung ini justru ditemukan di masyarakat Eskimo, New Zealand, Hawai, Mongol, dan sebagian masyarakat Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, pun dengan Timor dan sebagian besar masyarakat NTT (https://en.wikipedia.org/wiki/Eskimo_kissing). Makanya, orang Timor menyebut tradisi salam hidung sebagai tradisi lokal, bukan bawaan dari penjajah manapun.

Yang unik, bukan hanya tidak biasa berjabat tangan ketika bertemu ata berpisah dengan orang lain, orang Timor bahkan menganggap jabat tangan sebagai ungkapan good bye, bukan see you later. Sehingga jabat tangan ketika berpisah tidak lazim dilakukan, bahkan dilarang. Karena menurut mereka itu menunjukkan orang yang mengajak berjabat tangan tak akan dan tak ingin lagi bertemu dengan kita suatu saat nanti. Hal ini tentu berkebalikan dengan sebagian besar orang Indonesia yang justru menganggap berjabat tangan sebagai bentuk kesopanan ketika bertemu maupun berpisah. Maka satu satunya yang dilakukan orang Timor ketika hendak berpisah hanyalah mengucap salam yang disertai dengan membungkuk atau melambaikan tangan.

Perlu diketahui juga, orang Indonesia pada umumnya memang memberi salam dengan ucapan “Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam”, tapi di daerah masing-masing tentu ucapan salam itu akan berbeda. Orang Jawa misalnya yang punya “Sugeng Ndalu” untuk ucapan Selamat Malam. Atau orang Batak yang suka bilang “Horas” untuk memberi salam. Umat Muslim juga punya sapaan “Assalamu’alaikum” dan umat Hindu misalnya dengan “Om Swastiastu“. Greetings atau ucapan salam memang menjadi ciri khas suatu masyarakat tertentu. Begitupun masyarakat Timor. Alih-alih mengucapkan “Selamat siang” ketika bertemu atau berpisah, mereka lebih sering menyapa satu sama lain dengan mengucap “Shalom!”Shalom sendiri memiliki arti ucapan salam dan perpisahan yang biasa digunakan orang Yahudi (https://www.merriam-webster.com/dictionary/shalom).

Tenang, ini bukan masalah konspirasi Yahudi atau semacamnya, hanya saja menarik untuk kita tau bahwa pengaruh salam Shalom ini sampai juga di masyarakat Timor. Bukan hanya untuk diketahui tapi juga sudah menjadi tradisi. Dan masyarakat Timor bukan hanya mengucapkan Shalom ketika bertemu dan berpisah, tapi juga ketika mengakhiri suatu pertemuan. Jika sebuah pertemuan sudah usai, biasanya akan ada aba-aba dari satu orang, “1..2..3..”, lalu semua peserta pertemuan akan berdiri dan berteriak “SHALOM!”.

Indonesia itu kaya!

Pengabdi Setan (2017) Review

 

Saya tidak tau apakah opsi untuk menikmati Pengabdi Setan di bioskop adalah opsi yang tepat dan harus saya rekomendasikan. Karena sejujurnya saya merasa rugi mengeluarkan Rp 30.000 untuk sebuah film yang hampir sepanjang durasi saya merasa tercekam, terancam, dan tidak tenang. Boro-boro menikmati, saya menghadap lurus ke layar dengan badan tegap saja tak mampu. Selama 107 menit film Pengabdi Setan tayang, badan saya menghadap ke samping (teman nonton), dua ibu jari tangan saya siap di depan lubang telinga dan delapan jari lainnya ambil posisi tepat di depan wajah. Sikap siaga ini yang saya pasang selama film berlangsung. Tapi saya lumayan juga kok, meski di beberapa scene saya nonton dengan mata setengah terbuka, saya tetap lihat keseluruhan film, tentu saja dengan motivasi, “Jangan sia-siakan 30.000 untuk sesuatu yang tidak kamu tonton,”. Dan satu lagi lumayannya, dibandingkan dengan mbak-mbak di depan dan belakang saya, saya jauh lebih jarang mengeluarkan suara teriakan karena kaget atau takut -atau teriak tanpa alasan juga. Ah, jangan dibandingkan dengan kawan nonton saya. She’s crazy for all horror movies. Dia nonton Pengabdi Setan kaya nonton Warkop DKI Reborn, semua indra berani dipasang maksimal.

Sebelum film ini diputar perdana pada 28 September 2017, memang gaung promosinya sudah terdengar di mana-mana. Ajakan buat nonton film Pengabdi Setan pun juga mulai berdatangan. Saya memilih untuk tidak nonton di hari pertama film tersebut tayang, sengaja mau dengar testimoni orang-orang dulu. Saya doyan denger testimoni temen, tapi anti baca review sebelum nonton film; karena itu rawan spoiler. Biar greget dan lebih surprised aja pas nonton. Beda sama temen saya yang sebelum nonton semacam sudah menguasai film, udah nonton bahkan hafal sama trailer filmnya, baca review sana-sini, dan nontonin testimoni orang yang udah nonton, termasuk nonton reaksi dan wawancara sama para pemain. Gila emang. Jadi sepanjang film tuh dia suka bilang, “Oh, yang ini. Itu cewek bukan ibu aslinya. Ibu aslinya nanti ada di kasur,” LAH KOK TAU? “Iya, di trailer ada hehe.” HUFT.

Tapi nonton atau nggak nonton trailer, film ini tetep serem sih di mata saya.

TENTANG PENGABDI SETAN

Rating: 17 tahun ke atas
Genre: Horror
Director: Joko Anwar
Duration: 1h 47mins
Starred: Tara Basro (Rini), Endy Arfian (Tony), Nasar Annuz (Bondi), M. Adhiyat (Ian), Ayu Laksmi (Ibu), Bront Palarae (Bapak), Dimas Aditya (Hendra)

21909587_891271397689075_7396140035415736320_n.jpg

SINOPSIS

Singkatnya, Pengabdi Setan mengisahkan tentang sebuah keluarga yang diteror Ibu. Keluarga ini adalah keluarga harmonis yang tinggal di sebuah rumah tua, jauh dari kota. Terdiri dari Nenek (ibu dari Bapak), Bapak, Ibu, empat anak mereka yaitu Rini, Tony, Bondi, dan Ian. Ibu sudah sakit parah selama tiga tahun lamanya, dan itu membuat kondisi ekonomi keluarga mereka memburuk, bahkan mereka sudah jual barang ini-itu. Ibu tidak bisa jalan, hanya berbaring lemah di kasur. Jadi, kalau Ibu butuh apa-apa, ia akan memanggil bantuan dengan membunyikan lonceng tangan yang selalu ada di meja samping tempat tidurnya.

Sampai akhirnya Ibu meninggal –dengan misterius, karena posisinya berdiri lalu terjatuh. Di acara pemakaman Ibu, mereka bertemu dan berkenalan dengan Pak Ustadz dan anaknya, Hendra, yang tinggal tak jauh dari rumah mereka. Hendra naksir Rini. Lepas Ibu meninggal, Bapak langsung memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pergi ke kota untuk mencari uang. Dengan berat hati keempat anak itu setuju untuk melepas Bapak dan hanya tinggal bersama nenek yang sudah tua dan duduk di kursi roda.

Sejak kepergian Ibu, teror-teror terjadi pada mereka. Mulai dari suara lonceng Ibu yang berbunyi di malam hari, sampai sosok Ibu yang mendatangi mereka. Keanehan yang terus terjadi diperkuat dengan komentar Hendra anak Pak Ustadz yang mengusulkan mereka untuk meninggalkan rumah tua itu karena nampaknya ada kekuatan iblis yang kuat. Hendra juga mengaku melihat sosok Ibu (yang sudah meninggal) di rumah mereka. Tapi sayangnya, Rini adalah orang yang anti dengan hal-hal berbau klenik dan hal gaib macam itu. Konyol, nggak logis.

Kekhawatiran Rini sebagai kakak tertua memuncak ketika Nenek ditemukan tewas tercebur ke sumur dengan misterius. Mulai dari situ, Rini, Tony, dan Hendra bersama-sama menguak dan mencari tahu apa yang terjadi sehingga mereka terus-menerus diteror. Akhirnya mereka menemukan informasi mengenai Ibu yang (ternyata) Pengabdi Setan dari seorang kawan Nenek di kota. Setelah itu, kejadian semakin pelik dengan Bondi yang kemasukan arwah dan terus-menerus berusaha membunuh Ian. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tonton dan temukan jawabannya sendiri ya hehe.

Saya mau spoiler dulu deh dikit, boleh? Tapi nggak spoiler juga sih. Pokoknya film ini berakhir dengan nggantung dan plot twist! Tenang, happy ending kok. Bagi saya itu sangat penting, karena saya benci setengah mati sama film-film yang akhirnya pada mati, apalagi mati tragis huhu. Premis film ini juga bagus, Ibu yang mendatangai anak-anaknya, bukan untuk menghantui, tapi untuk menjemput mereka.

REVIEW

22157224_304306586715954_3438699702218915840_n.jpg

Satu kata untuk film ini, PECAH!

Asli, pecah banget sih. Saya bukan penikmat horor, tapi sering nonton film horor. Nahlo gimana itu maksudnya. Dan bagi saya, film Pengabdi Setan ini levelnya udah dewa banget sebagai sajian film horor, dari segi apapun. Kalau toh ada kurangnya, itu sangat sedikit dan tertutup oleh kelebihan lainnya. Percaya sama saya. Saya nggak ragu buat bilang ke orang-orang bahwa ini film horor yang nyaris sempurna. Saya nggak ragu buat bilang ke siapapun, baik pecinta horor atau bukan, untuk nonton film ini, karena saya sama sekali nggak kecewa. Dan saya harap kalian juga begitu.

Saya nggak ragu buat bilang ke siapapun, baik pecinta horor atau bukan, untuk nonton film ini, karena saya sama sekali nggak kecewa. Dan saya harap kalian juga begitu.

Bahkan kalau dibandingkan sama beberapa film luar, Pengabdi Setan ini nggak kalah serem. Dua hari sebelum saya nonton Pengabdi Setan, saya (dan beberapa kawan tentu saja) streaming-an Annabelle 2. Menurut saya, jauuuuuh lebih seram Pengabdi Setan. Begitu pula jika dibandingkan dengan film dari tetangga kita, negeri Jiran yang diusung-usung sebagai salah satu film horor terseram di sana. Judulnya Munafik. Ah, Munafik juga lewat jauuh di belakang Pengabdi Setan keseramannya.

Saya rasa yang paling bikin film ini mencekam dari awal sampai akhir adalah efek kamera dan sound-nya. Iya, seperti kebanyakan film horor sih. Tapi untuk film horor Indonesia, rasa-rasanya istimewa sekali apa yang disajikan Pengabdi Setan, baik angle pengambilan gambarnya –yang anjir bikin deg-deg an banget, maupun permainan sound nya. Dan tentu saja, kehororan film Pengabdi Setan tak lepas dari kepiawaian akting para aktornya. Saya nggak bisa bilang akting siapa yang paling bagus, karena semuanya bagus! Dapet banget feel-nya. Saya rasa semua tokoh bisa membuat penonton hanyut dan ikut merasakan apa yang dirasakan para pemain. Tapi sampai sekarang saya masih ngerasa tokoh Bondi dan Ian (dua anak bungsu itu) too cute to be bad. Mereka mukanya lucu banget, jadi agak kurang sukses memberikan kesan seram. Apalagi pas keduanya *spoiler alert* kesurupan. Beda dengan tokoh si Ibu yang plis, dia nggak melakukan apapun aja udah serem buanget! Nggak sanggup saya menatap Ibu.Terima kasih kepada sang make-up artist. Kalian sangar.

Yang saya suka (lagi), adalah film ini tidak sepenuhnya horor. Banyak sisi lain yang juga berusaha ditampakkan dari Pengabdi Setan. Misalnya, nilai kekeluargaan. Saya sempet kaget dan merespon dengan what? ketika tau bahwa satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh para anak (Rini, Tony, Bondi, Ian) supaya *spoiler alert* para pengabdi setan tidak bisa mengambil salah satu dari mereka adalah dengan bersatu. Sangat cheesy kan? Tapi mungkin memang itu salah satu nilai yang ingin disampaikan. Keluarga harus bersatu dan tak terpecah belah. Yey! Tapi memang kalau melihat persaudaraan mereka berempat itu sweet banget.

Selain itu, saya yakin semua orang yang nonton setuju, film ini selain menegangkan juga sangat menghibur. Bikin ketawa. Bang Joko Anwar tetap memasukkan unsur-unsur komedi ke film yang nakutinnya bikin edan. Bukan cuma satu-dua scene yang bikin kita ketawa, tapi banyak. Apalagi karakter Tony yang emang kocak, jahil, tapi manis. Seketika jiwa pedo-noona saya muncul kalau lihat Tony. Maaf, maaf. Saya suka humornya film ini, karena smooth dan yang jelas cukup meredakan ketegangan. Semacam oase di tengah-tengah gurun atau scene siang di film horor. Bawaannya menenangkan gitu. Dan bukan cuma Tony, Ian juga lucu bikin ngakak, Bondi juga gitu. 

Oiya, satu tambahan lagi. Film ini jauh dari plot hole saking detailnya.

EPILOG

Ini film super kece! Kalau ada yang bilang film Pengabdi Setan mengecewakan, jangan percaya. Percaya aja sama saya hehe. Karena sejauh ini komentar-komentar orang terhadap film ini memang sangat positif. Oh, tapi ada satu temen saya yang bilang kalau film ini ga seru, cuma ibunya aja yang serem, katanya. Sejak saat itu saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan pertemanan kami.

Bercanda hehe.

Tiap orang bebas berpendapat kok. Tapi kalian harus percaya sama saya dulu. Tonton filmnya dan buktikan sendiri! Saya mengutip pesan dari teman saya sebelum saya nonton film ini. Pesannya bagus banget, “Mau nonton Pengabdi Setan? Ati-ati cepirit.”

 

Ps.

Bisa disimak kemari untuk yang ingin tau perbandingan film Pengabdi Setan tahun 1980 karya Sisworo Gautama dan Pengabdi Setan Remake yang diproduksi tahun 2017 garapan sutradara Joko Anwar.

https://www.kompasiana.com/mirfanhy/59cdc178677ffb7c0940c7c2/resensi-film-pengabdi-setan-2017

Rindu Membunuhku

sometimes we miss the moment, not the people.

saya pikir itu yang saya rasakan sekarang –dan kemarin kemarin juga sih. rasanya rindu sekali dengan suasana Desa Lelobatan, NTT, tempat saya dan keempat kawan menghabiskan waktu 54 hari di sana untuk belajar banyak hal. kadang saya penasaran sama meme atau quotes galau yang bilang “rindu ini membunuhku”. saya pikir ungkapan itu berlebihan, tapi sekarang saya paham.

rindu serius bisa membunuh kita.

sekarang rasanya sesak karena memori tentang masa lalu itu hadir dan menciptakan rindu. rindu suasananya, rindu manusianya, rindu baunya, rindu dinginnya, rindu lelahnya, rindu alamnya, dan rindu momennya. lebih sesak lagi karena sadar bahwa keinginan untuk kembali mengulang momen yang sama itu baru sebatas angan, mengingat jarak, biaya, dan banyak hal yang perlu diselesaikan di Kota Jogja.

lalu, yang saya pikir rindu Lelobatan bisa terbayarkan dengan kongko bersama kawan kawan seperjuangan Lelobatan Squad, rupanya tidak. tidak semudah itu. yang ada kami justru berbagi kerinduan dan malah makin menjadi rindu ini. kami sepakat, kami bukan sedang rindu pada manusia semata, tapi kami rindu pada suasana. bahkan meskipun warga Lelobatan berkunjung ke Jogja, kami tidak yakin rindu Lelobatan bisa hilang dan terobati.

kami rindu manusia, tapi dengan suasana desa.

Dear Nathan

Lagi, saya gatel untuk tidak melampiaskan apa yang saya dapatkan dari sebuah film. Kali ini film yang dibintangi oleh Jefri Nichol dan Amanda Rawles. Saya pertama tau Jefri Nichol di film pendek Surat Cinta untuk Starla, dan itu oke banget sih dia mainnya. Kalau Amanda, baru tau sekarang. Maklum, jarang ngikutin film Indonesia, apalagi yang genre begini. Lebih sering ngikutin FTV #lah.

Tentang film Dear Nathan ini, sebenarnya awalnya sama sekali tidak ada keinginan untuk nonton. Film cinta-cintaan remaja Indonesia gimana sih? Paling juga gitu-gitu aja kan? Tapi keengganan saya buat nonton Dear Nathan sebagai film ala-ala remaja kalah dengan keinginan saya buat nonton Dear Nathan sebagai film yang dibintangi oleh Jefri Nichol. Lagipula menurut beberapa review dan testimoni kawan, film ini tidak mengecewakan, cuma ketebak aja jalur ceritanya. Baiklah, akhirnya saya putuskan nonton di tengah malam, akibat tidak bisa tidur, akibat (lagi) tidur siang kelamaan.

SINOPSIS

Film ini berkisah tentang kehidupan anak SMA (banget). Yang pada berantem lah, pada bully-an, senioritas, kenakalan remaja, temen pada bawel, anak OSIS keren, dan cinta masa SMA. Memang fokus utama yang jadi alur cerita adalah kisah cinta dua remaja, namanya Nathan dan Salma. Nathan ini cowok nakal, tapi kocak. Salma cewek baik-baik, ya gitu, pemalu juga. Keduanya pertama bertemu di depan gerbang sekolah, dan di detik pertama mereka bertemu, Nathan sudah sadar kalau dia jatuh cinta pada wanita di hadapannya.

Sebenernya saya juga bingung. Ini film cepet amat baru menit awal tokoh utama cowok udah naksir si cewek. Terus 95 menit ke belakang ceritanya bakal tentang apa lagi?

Rupanya bukan cuma kisah romansa SMA Nathan-Salma yang diangkat di cerita ini, tapi juga tentang keluarga Nathan yang kacau. Amburadul. Nathan sempurna broken home. Rumah bagi dia bukan lagi tempat yang nyaman untuk kembali. Beda dengan Salma yang hidupnya lempeng aja, seperti anak SMA normal pada umumnya. Orang tua oke, temen oke, organisasi oke, akademik oke, akhlak oke, cuma gara-gara Nathan hadir di hidupnya, yang nggak oke perlahan-lahan mulai muncul. Dan itu membuat keduanya sama-sama belajar dari kehidupan satu sama lain.

REVIEW

Film Dear Nathan ini betul-betul film romance-comedy. Romantisnya dapet, komedinya apalagi. Asli ngakak dari awal sampai akhir. Kalau nggak ngakak ya minimal bikin senyum sendiri. Senyumnya bisa karena lucu, juga bisa karena geli denger gombalan dari Nathan. Tapi memang drama romance-nya di beberapa part agak berlebihan, sih. Ala-ala sinetron remaja gitu. Kalau kalian nggak biasa, jangan nonton. Takutnya muntah. Tapi kemudian saya mikir, ini menjadi klise karena yang diangkat adalah kisah romansa anak SMA kali ya? Memang anak SMA bisa apa? Ketika ada lawan jenis naksir dan mulai menjalin hubungan, mereka merasa menjadi orang paling bahagia di dunia karena cinta sudah saling menemukan. Ketika lihat pasangannya dekat dengan wanita/pria lain, merasa menjadi orang paling menyedihkan di dunia karena merasa terbuang dan tak lagi diinginkan. Ketika ada banyak masalah yang menimpa, paling mereka cuma bisa nangis, merutuk nasib, karena sebatas itu resolusi konflik yang mereka (pada umumnya) bisa. Hah, kehidupan (cara mikir) anak SMA memang seberlebihan itu ya, atau sesederhana itu?

Yang saya suka, film ini sukses membawakan suasana Jakarta, se-Jakarta Jakarta-nya. Dan menghadirkan masa SMA, se-SMA SMA-nya. Kerasa banget, latar itu sangat mengena. Bahkan dari hal hal kecil tetek bengek, seperti piket kelas sebelum bel masuk berbunyi, usilnya anak cowok ke cewek sampe bikin kelas heboh, caper, dll. Tapi sayangnya, ada beberapa (banyak) part di film ini yang agak dipaksakan dan terkesan plotnya terlalu cepat. Tentu saja, risiko film yang diadopsi dari novel selalu begini. Tapi masih smooth sih transisinya jadi tidak terlalu mengganggu menurut saya.

QUOTES

Beberapa quotes yang biasanya pada suka –karena bikin baper dari film Dear Nathan.

“Ini (duit) buat lo beli paket internet” “Rumah gue udah ada WiFi, kuota gue juga banyak” “Kalo banyak, kenapa chat gue ga pernah dibales?” “Ya.. belakangan ini emang sinyalnya agak kurang bagus,” “Kalo gue sms dibales ga?” “Chat aja gapapa” “Ok, sampai nanti, ya”

“Eh lo tu kalo ngomong di depan muka gue dong. Punya nyali ngga?” “Ngga ada. Kasian lo nya nanti, naksir lagi sama gua.”

“Lo perlu baca buku ini, biar ga disetrap terus. Hidup itu musti ngerti aturan, Nath” “Nanti kalo gue baca buku ini, ngga ada waktu buat mikirin lo, dong.”

“Jangan kesel terus gitu ke gua. Kita baru jalan sekali lho, gimana kalo udah pacaran nanti? Jawabnya ga sekarang juga gapapa kok. Asal jangan kelamaan, hati orang ada kadaluarsanya juga.”

“Tunduk ya! Gue tu senior di sini!” “Terus itu jadi hak kakak buat ngebully gue?”
“Gue bisa bantuin sebar video ini ke junior lain. Biar lo gausah capek-capek ngomongin soal senioritas!”

“Kadang gue mikir, Sal. Lo itu ilusi yang gue ciptain, atau emang nyata sih? Sekeras-kerasnya niat orang, ada waktunya dia capek nunggu jawaban,”

“Di saat semua orang menatap gue sebagai sampah, lo menatap gue sebagai manusia, Sal.”

“Gue cinta sama lo, banget, tapi gue tau diri. Cinta gue ga akan buat lo bahagia. Selama ini gue cuma nyakitin gue sendiri, dan juga elo, Sal.”

“Simpen ini sebagai bukti, bahwa gualah laki-laki pertama yang mampir ke hati lo karena cinta. Dan gua jugalah laki-laki pertama yang pergi karena ingin liat lo bahagia. Tolong, jangan pernah benci gua karena ini, Sal.”

“Saya seneng kamu ngomong pakai aku-kamu, berasa kayak orang pacaran beneran,” “Aku, bukan saya. Kita kan pacaran” “Engga ah, saya lebih romantis daripada aku.

 

Kemudian ini kutipan yang saya sampai tutup telinga karena gombalnya kelewat norak, banget. Scene-nya juga bikin geli dan merinding dan bikin nggak tahan untuk tidak mengeluarkan bunyi iiiuuhh.

“Asik kali ya kalo ke atas. Bisa liat seluruh Jakarta” “Gausah jauh-jauh ke atas. Lo coba dulu liat hati orang di sebelah lo.”

“Jawab pertanyaan sesimpel gitu aja lo gabisa. Gimana mau jawab pertanyaan gua soal hubungan kita?”

“Semua masalah ngga perlu kan dihadepin pake emosi?” “Tapi ada lho, macem orang yang ngadepinnya gabisa pake akal sehat lagi. Kecuali ngadepin kamu, baru pake kasih sayang.”

 

Dan ini scene yang paling saya suka,

Di ruang OSIS. Waktu Aldo si Ketua OSIS (yang cupu soal laptop) ngajakin Salma (yang paham soal laptop) buat beli laptop baru karena yang lama udah bosok. Alesan Aldo biar ngga dikadalin sales katanya, makanya dia ngajak Salma, dan minta mereka buat jalan berdua aja.

“Tapi gaada yang marah kan kalo gue ajak lo jalan?” yang dijawab Salma dengan mimik bingung, “Kenapa? Udah ada pacar?”
Lalu tiba-tiba nongol si Nathan di bibir pintu ruang OSIS, “Udah!”
“Sal, kalian… pacaran?”
“Kenapa? Mau pacaran juga sama gua?” ini jawaban Nathan yang bego banget sih kocaknya. Mukanya juga.

 

Overall saya suka film ini! Filmnya sangat bahagiaaa yeyeye, meskipun percayalah ada beberapa bagian yang sangat sentimentil dan rasanya air mata ini tak mampu lagi untuk terbendung. Singkatnya, bikin nangis. Karena pada dasarnya, yang bikin menarik dari film ini bukan hanya hubungan asmara Nathan-Salma saja, tapi juga Nathan dan Papa Mama-nya, bahkan menurut saya cekcok antara Rahma dan Afifah (sohib Salma) juga sangat menarik.

Rasanya ngga cukup kalau cuma baca review orang atau denger testimoni orang tentang film ini. Harus nonton sendiri. Maksudnya bukan nonton sendirian literally sendirian tanpa kawan, sih. Tapi harus nonton dengan mata kepala sendiri, karena percayalah lah, banyak gimik-gimik yang bikin deg-deg-ser, banyak dialog dan adegan yang bikin ngakak dan cengengesan sendiri, dan banyak yang baru bisa kerasa kalau udah nonton sendiri.

 

Ps. PENTING BANGET INI!
Kalau kalian suka Dilan, saya yakin kalian juga suka Dear Nathan. Auranya 11-12. Masih 12 Dilan sih, tapi akting Jefri Nichol sama sekali tidak mengecewakan kok. Kalau ditandingin sama AADC sang legenda drama romance-comedy Indonesia? Wah, masih AADC sih. Beda feel-nya.

Indonesia VS Malaysia

idmy.jpg

Indonesia sama Malaysia nih hubungannya semacam love-hate relationship. Hate banget sampai dendam turun temurun, saling caci-maki nggak habis-habis, pokoknya anti banget lah. Tapi tetep aja peduli dan respect each other, masih sama-sama mengakui performa masing-masing baik, masih high-five karena satu rumpun Melayu. Tapi tetep MALINGSIA – INDON sampai kapanpun. Bingung kan.

Galau.

Semacam mau bilang cinta tapi takut salah, bilang tidak ya? Mau bilang sayang tapi musuh bebuyutan, bilang tidak ya?

Love-hate relationship antara Indonesia dengan Malaysia juga sempat dibahas di video Geography Now! Silakan disimak supaya makin cinta sama Indonesia.

Up ↑